Bisnis Sewa Modem, ancaman baru bagi perusahaan pemasok

Gambar terkait

Industri telekomunikasi telah berkembang lambat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan telekomunikasi besar, termasuk Telkomsel dan Indosat, terus menderita kerugian.

Fase suram dari industri telekomunikasi dimulai dengan pengembangan aplikasi. Dengan aplikasi komunikasi untuk berita, panggilan telepon dan panggilan video, perusahaan telekomunikasi kehilangan pendapatan dari pinjaman. Selain itu, perusahaan telepon sangat bergantung pada panggilan kredit dan SMS selama ini.

“Pasar telekomunikasi ritel atau konsumen lambat pada 2018. Menurut BPS, sektor komunikasi dan informasi hanya tumbuh 7,04% pada 2018 dan telah melambat dalam 4 tahun terakhir. Pasar ponsel pintar dimulai dengan penetrasi 133% % (Wearesocial Januari 2019). “Jumlah smartphone telah melampaui total populasi Indonesia,” kata ekonom dari Institute for Economic and Financial Development (INDEF). Bhima Yudhistira.

Sekarang industri telekomunikasi mulai berjuang dengan ancaman baru. Ini adalah perusahaan penyewaan modern di luar negeri. Sejak dia muncul di 2016, ada lebih banyak pemain di lapangan.

Coba ketikkan modem dari luar negeri ke mesin pencari Google. Sejumlah situs penyewaan modern pasti akan muncul.

Salah satu pemain yang telah tumbuh cukup besar adalah PT Yelooo Integra Datanet Tbk alias Passpod. Usia perusahaan ini hanya 2 tahun, tetapi sudah bisa bertemu di pasar modal.

Dengan tetap di bulan keempat 2016 saja, penjualan sebesar Rp100 juta tercapai. Sekarang perusahaan dapat mengumpulkan sekitar Rp 1,5 hingga 3 miliar per bulan.

Bahkan, Passpod tidak lagi menawarkan modem, bukan karena gagal, tetapi karena modem itu disewa dengan dua ribu perangkat pada saat yang sama. Itu terjadi pada Desember 2017.

Mengingat potensi yang luar biasa, perusahaan terus meningkatkan jumlah modem. Sejauh ini, ada sekitar 11.000 modem. Pada saat IPO Passpod, ia berhasil mengumpulkan hampir Rp 501 miliar, dengan tujuan Rp 48 miliar. Uang digunakan untuk pengembangan bisnis.

Hiro mengatakan industri penyewaan modem nirkabel memiliki potensi luar biasa, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat saat ini yang suka bermain. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah saat ini sangat tinggi.

“Ukurannya sangat besar, bayangkan 8,2 juta orang dari Indonesia, pasar yang luar biasa, pergi ke luar negeri dalam satu tahun,” pungkasnya.

Potensi pengembangan bisnis penyewaan modern juga didukung oleh gaya hidup milenial saat ini. Seolah-olah generasi ini lebih tertarik untuk melepas kepenatan dengan berjalan-jalan dan siap untuk mengurangi peluang belanja lainnya.

Misalnya, Sakina Rakhma Diah Setiawan, seorang wanita berusia 29 tahun dalam satu tahun, dapat bepergian 3-4 kali ke luar negeri. Pada perjalanan terakhirnya ke Taiwan, ia menggunakan modem Wi-Fi.

Sakinah mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya dia menggunakan penyewaan modem nirkabel untuk pergi ke luar negeri. Biasanya menggunakan paket roaming atau membeli kartu SIM baru.

Menurutnya, penyewaan modem nirkabel memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, kuota tanpa batas dan limbah jangka panjang.

Baginya, Internet dianggap sebagai salah satu modal terpenting saat bepergian ke luar negeri. Anda akan memerlukan akses internet untuk mendapatkan informasi tentang kunjungan dan tujuan wisata yang ingin Anda kunjungi. Selain itu, ia suka sendirian, jadi internet adalah satu-satunya teman dan panduan baginya.

Selain itu, Internet adalah bahan utama yang bisa dia perbarui di Instagram. Foto di tujuan wisata sekarang harus dimiliki untuk setiap wisatawan.

Ada juga Suci Sarasina, yang senang bepergian ke luar negeri bersama teman-temannya. Dalam setahun dia bisa pergi ke luar negeri dua kali, meskipun dia mengurung dirinya di Asia Tenggara.

Sejak 2017, Suci mengklaim lebih memilih modem Wi-Fi daripada paket roaming atau kartu SIM. Alasannya adalah bahwa 1 perangkat dapat digunakan dengan teman-temannya. Baik Sakinah dan Suci mencapai omset sekitar 7 hingga 8 juta rupee per bulan.

Tetapi tidak semua milenium yang suka bepergian ke luar negeri memilih modem WLAN. Sapto (28 tahun) lebih suka, misalnya, paket roaming.

Alasan membeli paket jauh lebih mudah, modem tidak harus dibawa. Dia juga khawatir hipotek itu bisa hilang. Selain itu, faktor harga juga menjadi alasannya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *